Batik

Indonesia - Batik Kranthil Nitik

Kranthil Nitik, Motif Batik Yogyakarta Indonesia. Published by Twanis, Yogyakarta, 2014

Batik, idiom yang berasal dari kata “ngambar titik” (mengambar dengan titik) adalah sebuah seni menggambar pada sehelai kain. Lahir di era Kerajaan Majapahit (1293-1527). Saat itu motif atau pola batik masih didominasi oleh bentuk binatang dan tanaman.

Dalam perkembangan, dari corak-corak lukisan tanaman dan binatang lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang, dan sebagainya. Selanjutnya, melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.

Pada zaman itu, kain batik hanya digunakan kalangan raja dan keluarga bagsawan. Oleh karena itu, kain batik hanya diproduksi di dalam keraton sehingga masyarakat awam tidak diperkenankan memakainya, kecuali para pengikut bangsawan dan raja. Oleh karena para pengikut raja dan bangsawan tinggal di luar tembok keraton, maka kerajinan batik ini mulai dapat diperkenalkan pada masyarakat oleh mereka.

Pada tahun 1800-an batik mulai menyebar di daerah barat Jawa, salah satunya adalah daerah Pekalongan yang kita kenal sebagai kota batik saat ini. Pekalongan merupakan tempat terjadinya perjumpaan budaya beberapa bangsa seperti Cina, Belanda, Arab, India, Melayu, dan terakhir Jepang, maka motif batik pun juga dipengaruhi dengan unsur-unsur dari budaya itu. Salah satunya, motif batik Jlamprang yang diilhami dari budaya India dan Arab. Motif-motif Jlamprang atau yang oleh masyarakat Yogyakarta dikenal dengan nama Nitik adalah salah satu batik yang cukup populer diproduksi di daerah Krapyak, Pekalongan.

Perkembangan batik di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro setelah selesainya peperangan tahun 1830, mereka kebanyakan menetap di daerah Banyumas. Pengikutnya yang terkenal waktu itu ialah Najendra dan dialah mengembangkan batik celup di Sokaraja. Bahan mori yang dipakai hasil tenunan sendiri dan obat pewarna dipakai pohon tom, pohon pace dan mengkudu yang memberi warna merah kesemuan kuning.

Lama- kelamaan pembatikan menjalar pada rakyat Sokaraja dan pada akhir abad ke-19 berhubungan langsung dengan pembatik di daerah Solo dan Ponorogo. Daerah pembatikan di banyumas sudah dikenal sejak dahulu dengan motif dan warna khususnya dan sekarang dinamakan batik Banyumas. Setelah Perang Dunia I pembatikan mulai pula dikerjakan oleh Cina, di samping mereka dagang bahan batik.

Sama halnya dengan pembatikan di Pekalongan. Para pengikut Pangeran Diponegoro yang menetap di daerah ini kemudian mengembangkan usaha batik di sekitar daerah pantai ini, yaitu selain di daerah Pekalongan sendiri, batik tumbuh pesat di Buawaran, Pekajangan, dan Wonopringgo. Adanya pembatikan di daerah- daerah ini hampir bersamaan dengan pembatikan daerah- daerah lainya, yaitu sekitar abad ke-19. Perkembangan pembatikan di daerah-daerah luar, selain Yogyakarta dan Solo erat hubungannya dengan perkembangan sejarah kerajaan Yogyakarta dan Solo.

Meluasnya pembatikan keluar dari kraton setelah berakhirnya perang Diponegoro dan banyaknya keluarga kraton yang pindah ke daerah-daerah luar Yogyakarta dan Solo karena tidak mau kerjasama dengan pemerintah kolonial. Keluarga kraton itu membawa pengikut-pengikutnya ke daerah baru itu dan di tempat itu kerajinan batik terus dilanjutkan dan kemudian menjadi pekerjaan untuk pencaharian.

Corak batik di daerah baru ini disesuaiakan pula dengan keadaan daerah sekitarnya. Sehingga mempunyai ciri khas masing-masing daerah. Dan, antara satu daerah dengan daerah lainnya banyak sekali perbedaannya terutama di motif yang dikembangkannya.

Dari kerajaan-kerajaan di Solo dan Yogyakarta sekitar abad ke-17, 18, dan 19, batik kemudian berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Awalnya, batik hanya sekadar hobi dari para keluarga raja di dalam berhias lewat pakaian. Namun perkembangan selanjutnya, oleh masyarakat batik dikembangkan menjadi komoditi perdagangan.

Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu. Polanya tetap antara lain terkenal dengan sidomukti dan sidoluhur.

Sedangkan, asal-usul pembatikan di daerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram I, yaitu daerah Panembahan Senopati. Daerah pembatikan pertama ialah di Desa Plered. Pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga Kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu. Dari sini pembatikan meluas pada keluarga kraton lainnya yaitu istri dari abdi dalem dan tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombinasi batik dan lurik. Oleh karena rakyat tertarik pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga kraton dan kemudian ditiru oleh rakyat, akhirnya meluaslah pembatikan keluar dari tembok kraton.

Akibat dari peperangan waktu zaman dahulu, baaik antara keluarga raja-raja maupun antara penjajahan Belanda, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap di daerah-daerah baru antara lain ke Banyumas, Pekalongan, dan ke daerah Timur Ponorogo, Tulung Agung, dan sebagainya. Meluasnya daerah pembatikan ini sampai ke daerah pembatikan ini sampai ke daerah-daerah itu menurut perkembangan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dimulai abad ke-18. Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan di seluruh pelosok Pulau Jawa yang ada sekarang dan berkembang menurut alam dan daerah baru itu.

Perang Diponegoro melawan Belanda, mendesak pangeran dan keluarganya serta para pengikutnya harus meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah timur dan barat. Kemudian di daerah-daerah baru tersebut para keluarga dan pengikut Pangeran Diponegoro mengembangkan batik.

Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung. Selain itu juga menyebar ke Gresik, Surabaya, dan Madura. Sedang ke arah barat, batik berkembang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, dan Cirebon.

Batik di Tegal dikenal pada akhir abad ke-19 dan bahwa yang dipakai waktu itu buatan sendiri yang diambil dari tumbuh-tumbuhan: pace/mengkudu, nila, soga kayu dan kainnya tenunan sendiri. Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran abu-abu setelah dikenal nila pabrik, dan kemudian meningkat menjadi warna merah-biru. Pasaran batik Tegal waktu itu sudah keluar daerah, antara lain Jawa Barat dibawa sendiri oleh pengusaha-pengusaha secara jalan kaki dan mereka inilah menurut sejarah yang mengembangkan batik di Tasik dan Ciamis. Di samping pendatang-pendatang lainnya dari kota-kota batik Jawa Tengah.

Pada awal abad ke-19, sudah dikenal mori impor dan obat-obat impor baru dikenal sesudah Perang Dunia I. Pengusaha-pengusaha batik di Tegal kebanyakan lemah dalam permodalan dan bahan baku didapat dari Pekalongan dan dengan kredit dan batiknya dijual pada Cina yang memberikan kredit bahan baku tersebut. Waktu krisis ekonomi pembatikpembatik Tegal ikut lesu dan baru giat kembali sekitar tahun 1934 sampai permulaan Perang Dunia II. Waktu Jepang masuk kegiatan pembatikan mati lagi.

Demikian pula sejarah pembatikan di Purworejo, bersamaan adanya dengan pembatikan di Kebumen, yaitu berasal dari Yogyakarta sekitar abad ke-19. Perkembangan kerajinan batik di Purworejo dibandingkan dengan di Kebumen lebih cepat di Kebumen. Produksinya sama pula dengan Yogya dan daerah Banyumas lainnya.

Sedangkan di daerah Bayat, Kecamatan Tembayat Klaten yang letaknya kurang lebih 21 Km sebelah Timur kota Klaten. Daerah Bayat ini adalah desa yang terletak di kaki gunung, tetapi tanahnya gersang dan minus.. Daerah ini termasuk lingkungan Karesidenan Surakarta dan Kabupaten Klaten dan riwayat pembatikan di sini sudah pasti erat hubungannya dengan sejarah Kraton Surakarta masa dahulu. Desa Bayat ini sekarang ada pertilasan yang dapat dikunjungi oleh penduduknya dalam waktu-waktu tertentu, yaitu makam Sunan Bayat di atas Gunung Jabarkat. Jadi pembatikan di Desa Bayat ini sudah ada sejak zaman kerajaan dahulu. Pengusaha-pengusaha batik di Bayat tadinya kebanyakan dari perajin dan buruh batik di Solo.

Sementara pembatikan di Kebumen dikenal sekitar awal abad ke-19 yang di bawa oleh pendatang dari Yogya dalam rangka dakwah Islam. Antara lain yang dikenal, yaitu Penghulu Nusjaf. Beliau inilah yang mengembangkan batik di Kebumen dan tempat pertama menetap ialah sebelah timur Kali Lukolo sekarang.Terdapat juga peninggalan masjid atas usaha beliau. Proses batik pertama di Kebumen dinamakan tengabang atau blambangan dan selanjutnya proses terakhir dikerjakan di Banyumas atau Solo. Sekitar awal abad ke-19 untuk membuat polanya menggunakan kunir yang capnya terbuat dari kayu. Motif-motif Kebumen ialah: pohon-pohon, burung-burungan. Bahan-bahan lainnya yang dipergunakan ialah pohon pace, kemudu dan nila tom.

Pemakaian obat-obat impor di Kebumen dikenal sekitar tahun 1920 yang diperkenalkan oleh pegawai Bank Rakyat Indonesia yang akhirnya meninggalkan bahan-bahan bikinan sendiri, karena menghemat waktu. Pemakaian cap dari tembaga dikenal sekitar tahun 1930 yang dibawa oleh Purnomo dari Yogyakarta. Daerah pembatikan di Kebumen ialah di Desa Watugarut, Tanurekso yang banyak dan ada beberapa desa lainnya.

Meskipun tidak ada catatan resmi kapan batik mulai dikenal di Pekalongan, namun menurut perkiraan batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Bahkan menurut data yang tercatat di Deperindag, motif batik itu ada yang dibuat tahun 1802, seperti motif pohon kecil berupa bahan baju.

Namun, perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada tahun 1825-1830 di Kerajaan Mataram yang sering disebut dengan Perang Diponegoro (Perang Jawa). Dengan terjadinya peperangan ini mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah timur dan barat. Kemudian di daerah-daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya mengembangkan batik.

Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya, dan Madura. Sedang ke arah barat, batik berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon, dan Pekalongan. Dengan adanya migrasi ini, maka batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin berkembang.

Seiring berjalannya waktu, batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan daerah lain. Di daerah ini batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu daerah Buaran, Pakajangan, serta Wonopringgo. Dilihat dari proses dan desainnya, batik Pekalongan banyak terpengaruh batik Demak. Itu sebabnya, batik Pekalongan sangat khas.

Hingga awal abad ke-20, hanya proses pembatikan batik tulis. Bahan-bahannya yaitu kain mori, sebagian dibuat dalam negeri, sebagian import. Pasca Perang Dunia I, baru proses pembatikan cap dikenal, di mana masuk beragam obat-obatan kimia dari luar negeri, buatan Jerman dan Inggris.

Pada awal abad ke-20 pertama kali dikenal di Pekajangan ialah pertenunan yang menghasilkan stagen dan benangnya dipintal sendiri secara sederhana. Beberapa tahun belakangan baru dikenal pembatikan yang dikerjakan oleh pekerja dengan manajemen bisnis modern.

Batik Pekalongan masih bisa bertahan sampai sekarang, karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah. Akibatnya, batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Batik Pekalongan adalah nafas kehidupan sehari-hari warga Pekalongan. Ia menghidupi dan dihidupi warga Pekalongan.

Meskipun demikian, sama dengan usaha kecil dan menengah lainnya di Indonesia, usaha batik Pekalongan sempat menghadapi masa transisi. Perkembangan dunia yang semakin kompleks dan munculnya negara pesaing baru, seperti Vietnam, menantang industri batik Pekalongan untuk segera mentransformasikan dirinya ke arah yang lebih modern. Gagal melewati masa transisi ini, batik Pekalongan mungkin hanya akan dikenang generasi mendatang lewat buku sejarah. Ketika itu, pola kerja tukang batik masih sangat dipengaruhi siklus pertanian. Saat berlangsung masa tanam atau masa panen padi, mereka sepenuhnya bekerja di sawah. Namun, diantara masa tanam dan masa panen, mereka bekerja sepenuhnya sebagai tukang batik.

Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mempengaruhi perubahan zaman. Pekerja batik di Pekalongan kini tidak lagi didominasi petani. Mereka kebanyakan berasal dari kalangan muda setempat yang ingin mencari nafkah . Hidup mereka mungkin sepenuhnya bergantung pada pekerjaan membatik. Apa yang dihadapi industri batik Pekalongan saat ini mungkin adalah sama dengan persoalan yang dihadapi industri lainnya di Indonesia, terutama yang berbasis pada pengusaha kecil dan menengah.

Persoalan itu antara lain, berupa munculnya daya saing yang dtunjukkan dengan harga jual produk yang lebih tinggi dibanding harga jual produk sejenis yang dihasilkan negara lain. Padahal, kualitas produk yang dihasilkan negara pesaing lebih baik dibanding produk pengusaha Indonesia. Penyebab persoalan ini bermacam-macam, mulai dari rendahnya produktivitas dan keterampilan pekerja, kurangnya inisiatif pengusaha untuk melakukan inovasi produk, hingga usangnya peralatan mesin pendukung proses produksi.

Pasang surut perkembangan batik Pekalongan, memperlihatkan Pekalongan layak menjadi salah satu ikon bagi perkembangan batik di Nusantara. Ikon bagi karya seni yang tidak pernah menyerah dengan perkembangan zaman dan selalu dinamis. Kini batik sudah menjadi nafas kehidupan sehari-hari warga Pekalongan dan merupakan salah satu produk unggulan. Hal itu disebabkan banyaknya industri yang menghasilkan produk batik. Karena terkenal dengan produk batiknya, Pekalongan dikenal sebagai Kota Batik. Julukan itu datang dari suatu tradisi yang cukup lama berakar di Pekalongan. Selama periode yang panjang itulah, aneka sifat, ragam kegunaan, jenis rancangan, serta mutu batik ditentukan oleh iklim dan keberadaan serat-serat setempat, faktor sejarah, perdagangan, dan kesiapan masyarakatnya dalam menerima paham serta pemikiran baru.

Dilihat dari peninggalan-peninggalan yang ada sekarang dan cerita-cerita yang turun-temurun, maka diperkirakan di daerah Tasikmalaya batik dikenal sejak zaman Tarumanegara, di mana peninggalan yang ada sekarang ialah banyaknya pohon tarum didapat disana yang berguna untuk pembuatan batik waktu itu. Desa peninggalan yang sekarang masih ada pembatikan dikerjakan ialah Wurug terkenal dengan batik kerajinannya, Sukapura, Mangunraja, Maronjaya, dan Tasikmalaya kota.

Dahulu pusat dari pemerintahan dan keramaian yang terkenal ialah Desa Sukapura, yang terletak di pinggir Kota Tasikmalaya sekarang. Kira-kira akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18 akibat dari peperangan antara kerajaan di Jawa Tengah, maka banyak dari penduduk daerah Tegal, Pekalongan, Banyumas dan Kudus yang merantau ke daerah barat dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya. Sebagian besar dari mereka ini adalah pengusaha-pengusaha batik daerahnya dan menuju ke arah barat sambil berdagang batik. Dengan datangnya penduduk baru ini, dikenallah selanjutnya pembuatan baik memakai soga yang asalnya dari Jawa Tengah. Produksi batik Tasikmalaya sekarang adalah campuran dari batik batik-batik asal Pekalaongan, Tegal, Banyumas, Kudus yang beraneka pola dan warna.

Pembatikan dikenal di Ciamis sekitar abad ke-19 setelah selesainya peperangan Diponegoro, di mana pengikut-pengikut Diponegoro banyak yang meninggalkan Yogyakarta, menuju ke barat. Sebagian ada yang menetap di daerah Banyumas dan sebagian yang meneruskan perjalanan ke barat dan menetap di Ciamis dan Taikmalaya sekarang. Mereka ini merantau dengan keluarganya dan di tempat baru menetap menjadi penduduk dan melanjutkan tata cara hidup dan pekerjaannya. Sebagian dari mereka ada yang ahli dalam pembatikan sebagai pekerjaan kerajinan rumah tangga bagi kaum wanita. Lama kelamaan pekerjaan ini bisa berkembang pada penduduk sekitarnya akibat adanya pergaulan sehari-hari atau hubungan keluarga. Bahan-bahan yang dipakai untuk kainya hasil tenunan sendiri dan bahan catnya dibuat dari pohon seperti: mengkudu, pohon tom, dan sebagainya.

Motif batik hasil Ciamis adalah campuran dari batik Jawa Tengah dan pengaruh daerah sendiri terutama motif dan warna Garutan. Sampai awal-awal abad ke-20 pembatikan di Ciamis berkembang sedikit demi sedikit, dari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran. Sedang di daerah Cirebon batik ada kaitannya dengan kerajaan yang ada didaerah ini, yaitu Kanoman, Kesepuhan dan Keprabonan. Sumber utama batik Cirebon, kasusnya sama seperti yang di Yogyakarta dan Solo. Batik muncul lingkungan kraton, dan dibawa keluar oleh abdi dalem yang bertempat tinggal di luar kraton. Raja-raja zaman dulu senang dengan lukisan-lukisan dan sebelum dikenal benang katun, lukisan itu ditempatkan pada daun lontar. Hal itu terjadi sekitar abad ke-18. Ini ada kaitanya dengan corak-corak batik diatas tenunan. Ciri khas batik Cirebon sebagian besar bermotifkan gambar yang lambang hutan dan margasatwa. Sedangkan adanya motif laut karena dipengaruhi oleh alam pemikiran Cina, di mana Kasultanan Cirebon dahulu pernah menyunting putri Cina. Sementara batik Cirebon yang bergambar garuda karena dipengaruhi oleh motif batik Yogya dan Solo.

Batik Mojokerto dan Tulung Agung

Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majapahit, dapat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojokerto adalah daerah yang erat hubungannya denga kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Mojokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan di daerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu, daerah Tulung Agung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat berkembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang bernama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.

Diceritakan bahwa dalam aksi polisinil yang dilancarkan oleh Majapahit, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon di sekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluarga kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal di wilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulung Agung juga membawa kesenian membuat batik asli.

Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero, dan Sidomulyo. Di luar daerah kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Pada akhir abad ke-19, ada beberapa tempat kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila, tom, tinggi, dan sebagainya.

Obat-obatan luar negeri baru dikenal sesudah Perang Dunia I yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri. Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya di pasar Porong Sidoarjo. Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, di mana hasil-hasil produksi batik kedung cangkring dan jetis sidoarjo banyak dijual. Waktu krisis ekonomi dunia (1929-1932), banyak pengusaha batik Mojokerto lumpuh usahanya. Sesudah krisis kegiatan pembatikan sempat menggeliat kembali, sampai Jepang masuk ke Indonesia (1942). Perang kemerdekaan menjadikan industri batik juga surut.

Meskipun pembatikan dikenal sejak zaman Majapahit, namun perkembangan batik mulai menyebar pesat ketika terpecahnya Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipengaruhi corak batik asal Solo dan Yogyakarta.Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya cokelat muda dan biru tua. Batik-batik Kalangbret ini diproduksi di Desa Majan dan Simo.

Kedua desa ini memiliki pertalian dengan wilayah Yogyakarta. Paska Perang Jawa (1825-1830) yang dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro (1785-1855). Dalam berkecamuknya peperangan antara tentara tentara kolonial Belanda dengan pasukan-pasukan Pangeran Diponegoro, maka sebagian dari pasukan-pasukan Kyai Mojo mengundurkan diri ke arah timur dan sampai sekarang bernama Majan. Sejak zaman kolonial Belanda hingga kemerdekaan, Desa Majan berstatus desa merdikan (daerah istimewa). Kepala desanya seorang kyai yang statusnya turun temurun. Para pengikut Pangeran Diponegoro inilah yang memulai kegiatan membatik. Tentu saja corak Yogyakarta masih mendominasi mengingat asal mereka. Hanya babaran batik Majan ini unik, warnanya merah menyala karena pewarnanya menggunakan kulit Mengkudu dan warna lainnya dari tom. Seperti batik Majan, batik dari desa Simo juga merah menyala warnanya.

Sebagai batik sentra sejak dahulu kala terkenal juga di daerah Desa Sambung, yang para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Solo yang datang di Tulung Agung pada akhir abad ke-19. Hanya sekarang masih terdapat beberapa keluarga pembatikan Solo yang menetap di daerah Sumbung. Selain dari tempat-tempat tersebut, ada juga daerah pembatikan di Trenggalek dan beberapa di Kediri. Tetapi sifat pembatikan sebagian kerajinan rumah tangga dan babarannya batik tulis.

Riwayat pembatikan di daerah Jawa Timur lainnya adalah Ponorogo, yang kisahnya berkaitan dengan penyebaran ajaran Islam di daerah ini. Disebutkan masalah seni batik di daerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam dan kerajaan-kerajaan dahulu. Konon, di daerah Batoro Katong, ada seorang keturunan dari kerajaan Majapahit yang namanya Raden Katong adik Raden Patah. Batoro Katong inilah yang membawa ajaran Islam ke Ponorogo dan petilasan yang ada sekarang ialah sebuah mesjid di daerah Patihan Wetan.

Perkembangan selanjutnya, di Ponorogo, di daerah Tegalsari da sebuah pesantren yang diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Pesantren Tegalsari ini selain mengajarkan agama Islam juga mengajarkan ilmu ketatanegaraan, ilmu perang, dan kesusastraan. Seorang murid yang terkenal dari Tegalsari di bidang sastra ialah Raden Ronggowarsito. Kyai Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Kraton Solo.

Waktu itu seni batik baru terbatas dalam lingkungan kraton. Oleh karena putri Kraton Solo menjadi istri Kyai Hasan Basri, maka dibawalah ke Tegalsari dan diikuti oleh pengiring-pengiringnya. Di samping itu, banyak pula keluarga kraton Solo belajar di pesantren ini. Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari kraton menuju Ponorogo. Para pemuda dididik di Tegalsari ini dan kalau sudah keluar, dalam masyarakat akan menyumbangkan darma batiknya dalam bidang-bidang kepamongan dan agama.

Daerah perbatikan lama yang bisa kita lihat sekarang ialah daerah Kepatihan Wetan, dan dari sinilah meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunkusuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono, dan Ngunut. Waktu itu obat-obatan yang dipakai dalam pembatikan ialah buatan dalam negeri sendiri dari kayu-kayuan, antara lain pohon tom, mengkudu, kayu tinggi. Sedangkan bahan kain putihnya juga memakai buatan sendiri dari tenunan gendhong. Kain putih impor baru dikenal di Indonesia kira-kira akhir abad ke-19.

Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah Perang Dunia I yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas. Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur. Itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo. Saking dikenalnya setelah Perang Dunia I sampai pecahnya Perang Dunia II terkenal batik kasarnya, yaitu batik Cap Mori Biru. Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal di seluruh Indonesia.

Batik bukan lagi menjadi pakaian yang digemari oleh raja-raja dan pengikutnya (pembantu-pembantu kraton), tetapi juga oleh masyarakat umum. Sehingga banyak peminat atau ketertarikannya pada batik dan menjadikan sebagai pakaian dalam acara-acara resmi seperti acara hajatan, atau acara kenegaraan atau kepemerintahan.

Batik sudah lama dikenal oleh masyarakt Indonesia bahkan masyarakat dunia sehingga menjadikan salah satu ikon atau identitas budaya Indonesia. Sekarang ini kata batik sudah banyak dikenal di luar negeri. Baik wanita maupun pria Indonesia dari berbagai suku gemar memakai bahan pakaian yang dihiasi pola batik ataupun kain batiknya sendiri, yang dibuat dan digunting menurut selera masing-masing. Para turis asing ataupun pejabat-pejabat asing yang tinggal di Indonesia sangat gemar akan batik dan sering membawanya pulang sebagai oleh-oleh.

Setelah terjadinya gonjang-ganjing mengenai status batik yang sempat diklaim oleh Malaysia bahwa batik merupakan ciri khas atau sebagai identitas dari budaya mereka. Dengan adanya pengakuan tersebut masyarakat Indonesia, terutama bagi para pencinta batik Indonesia, merasa gerah dan terganggu dengan adanya kasus tersebut. Sehingga masyarakat Indonesia melalui pemerintahannya mengajukan ke PBB untuk urusn kebudayaan (UNESCO) untuk menetapkan bahwa batik adalah salah satu warisan budaya dunia yang sah milik Indonesia.

Dengan perjalanan panjang yyang lumayan melelahkan, maka UNESCO (United Nations Educational Scientific, and Cultural Organization) pada tanggal 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi menetapkan batik salah satu warisan budaya dunia. Tentunya berita ini memberikan kegembiraan bagi para pecinta batik di Indonesia yang selama ini memang memperjuangkan agar kekayaan seni tak berbenda tersebut bisa sah milik Indonesia.

Keputusan UNESCO yang sudah lama dinanti-nanti bangsa Indonesia itu disambut meriah dan berbagai kalangan pada tanggal tersebut menggunakan batik, baik untuk bekerja, bersekolah, kuliah, serta kegiatan lainnya.

Keputusan badan dunia itu diharapkan akan menggairahkan para pengusaha serta perajin batik untuk meningkatkan kualitas mereka, baik mutu, desain maupun jumlahnya. Sehingga bisa membuktikan kepada bangsa-bangsa lain serta UNESCO sendiri bahwa keputusan itu akan ditindaklanjuti oleh bangsa ini.

Batik Nitik (Jlamprang)

Batik Nitik yang berkembang sejak tahun 1800an ini terkenal karena teknik pembuatan dan motifnya. Teknik membatiknya, berupa menggambar motif dengan membuat titik-titik. Teknik ini berbeda dengan teknik lainnya yang biasanya menggambar ornamen dengan garis. Oleh sebab itu, Canting yang dipergunakan juga khusus. Mulut Canting biasanya dibelah untuk memudahkan proses menitik.

Secara umum, motif yang lazim ditemui dalam batik Nitik adalah flora dan fauna. Motif-motif yang umum adalah Kembang Pace, Ranti, Cakar Ayam, Kembang Randu, Dapa Kurung dan Kembang Kentang. Kini banyak sekali motif-motif kontemporer meskipun teknik yang dipergunakan masih sama seperti membatik pada beberapa ratusan tahun lalu.

Setelah proses pambatikan selesai, kain pun diberi warna. Pewarnaan dilakukan beberapa kali untuk menghasilkan warna yang diinginkan. Pada umumya warna yang digunakan dalam batik nitik adalah warna sogan (cokelat kehitaman) yang menjadi ciri khas batik gaya Yogyakarta.

Selanjutnya adalah proses melorot dan mengerok (menghilangkan malam atau lilin pada kain). Para pengrajin sebelum menjual kepada pedagang sebesar Rp. 400-600 buah, biasanya yang melakukan proses melorot dan mengerok warna. Setelah sampai di toko besar tempat konsumen membeli, harganya bisa mencapai jutaan rupiah.

Dusun Sindet, Trimulyo, Jetis, Bantul di Yogyakarta merupakan salah satu penghasil batik nitik. Disini, rata-rata pembatik hanya mampu membuat satu buah kain dengan ukuran 2,5 x 1,15 meter. Setidaknya terdapat 50 pembatik yang masih aktif disini.

Kranthil Nitik

Salah satu motif Batik Jlamprang adalah Kranthil Nithik. Kranthil adalah motif berbentuk bunga Kanthil atau cempaka putih. Bunga yang menyebarkan bau harum ini dianggap memiliki nilai magis pada masyarakat Jawa. Dalam filosofinya, bunga kanthil mengandung makna kemantil-kantil yang artinya selalu teringat dimanapun berada , meski terpisah oleh alam kehidupan. Tak heran Bunga Kanthil ini dipergunakan sebagai motif batik.

Kain batik jlamprang berkembang di daerah pesisir, sehingga warnanya pun bermacam-macam, sesuai selera konsumennya yang kebanyakan berasal dari Eropa, Cina, dan negara-negara lain. Warna yang dominan digunakan adalah rnerah, hijau, biru dan kuning, meskipun masih juga menggunakan warna soga dan wedelan.

Selain terdiri dari bujur sangkar dan persegi panjang, nitik dari Yogyakarta juga diperindah dengan hadirnya isen-isen batik lain, seperti cecek (cecek pitu, cecek telu), bahkan ada yang diberi ornamen batik dengan klowong maupun tembokan, sehingga penampilannya, baik bentuk dan warnanya, lain dari motif jlampranq Pekalongan. Nitik dari Yogyakarta menggunakan warna indigo, soga (cokelat), dan putih. Seperti motif batik yang berasal dari keraton lainnya, motif nitik kreasi keraton juga berkembang ke luar lingkungan keraton. Lingkungan Keraton Yogyakarta yang terkenal dengan motif nitik yang indah adalah Ndalem Brongtodiningrat. Batik nitik Yogyakarta yang terkenal adalah dari Desa Wonokromo, dekat Kotagede.

Untuk membuat batikan yang berbentuk bujur sangkar dan persegi panjang, diperlukan canting tulis khusus dengan lubang canting yang berbeda dengan canting biasa. Canting tulis untuk nitik dibuat dengan membelah lubang canting biasa ke dua arah yang saling tegak lurus.

Dalam pengerjaannya, setelah pencelupan pertama dalam warna biru, proses mengerok hanya dikerjakan untuk bagian cecek saja atau bila ada bagian klowong-nya. Agar warna soga dapat masuk di bagian motif yang berupa bujur sangkar dan persegi panjang yang sangat kecil tersebut, maka bagian tersebut ditekan-tekan sehingga pada bagian tertentu malamnya dapat lepas dan warna soga dapat masuk ke dalamnya.

Oleh karena itu, untuk membuat batik nitik diperlukan malam khusus yaitu malam yang kekuatan menempelnya antara malam klowong dan malam tembok. Langkah selanjutnya adalah mbironi, menyogo, dan akhimya melorod.

Sampai saat ini terdapat kurang lebih 70 motif nitik. Sebagian besar motif nitik diberi nama dengan nama bunga, seperti kembang kenthang, sekar kemuning, sekar randu, dan sebagainya. Ada pula yang diberi nama lain, misalnya nitik cakar, nitik jonggrang, tanjung gunung, dan sebagainya.

Motif nitik juga sering dipadukan dengan motif parang, ditampilkan dalam bentuk ceplok, kothak, atau sebagai pengisi bentuk keyong, dan juga sebagai motif untuk sekar jagad, tambal, dan sebagainya. Paduan motif ini terdiri dan satu macam maupun bermacam-macam motif nitik. Tampilan yang merupakan paduan motif nitik dengan motif lain membawa perubahan nama, misalnya parang seling nitik, nitik tambal, nitik kasatrian, dan sebagainya.

Seperti halnya motif batik yang lain, motif nitik juga mempunyai arti filosofis. Contohnya, nitik cakar yang sering digunakan pada upacara adat perkawinan ini diberi nama demikian karena pada bagian motifnya terdapat ornamen yang berbentuk seperti cakar. Cakar yang dimaksud adalah cakar ayam atau kaki bagian bawah. Cakar ini digunakan untuk mengais tanah mencari makanan atau sesuatu untuk dimakan.

Motif nitik cakar dikenakan pada upacara adat perkawinan, dimaksudkan agar pasangan yang menikah dapat mencari nafkah dengan halal, sepandai ayam mencari makan dengan cakarnya. Nitik cakar dapat berdiri sendiri sebagai motif dan satu kain atau sebagai bagian dari motif kain tertentu, seperti motif wirasat atau sido drajat, yang juga sering digunakan dalam upacara adat perkawinan. Setiap motif batik memiliki makna filosofis. Makna-makna tersebut menunjukkan kedalaman pemahaman terhadap nilai-nilai lokal. Hingga sekarang nilai-nilai tersebut masih bertahan.

Sumber :
Aep S. Hamidin, Batik Warisan Budaya Asli Indonesia,  2010

Twanis Collection :
Jl. Beskalan Utara GM I / 443 (Belakang Toko Ramai Malioboro) Jogja, Yogyakarta
Indonesia 55122 (HP : 085743476572)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s