Bawomataluo’s Totem

indonesia-bawomataluo-sumatera-utara-patw

Bawomataluo’s Totem, Postcard by Postcard Around The World, http://www.the-patw.com, undated

Bawömataluo, dalam bahasa Nias berarti Bukit Matahari. Ini merupakan sebuah desa adat di kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Desa ini adalah ibu kota desa-desa adat yang tersebar di Nias.

peta-nias

Pulau Nias, Sumatera Utara

Desa ini terdiri dari 9 dusun dan berada pada ketinggian di atas 324 m dari permukaan laut. Sebuah desa di atas bukit yang telah ada sejak berabad-abad lalu dan masih terpelihara dengan baik.

Desa yang dihuni 1.310 kepala keluarga ini masih teguh memegang adat istiadat nenek moyang. Tak ayal berbagai warisan budaya peninggalan leluhur orang Nias ada di desa adat ini. Sebut saja bangunan rumah adat tradisional (omo hada) dengan konstruksi material berbahan kayu tanpa paku, situs-situs megalitikum, tari-tarian, hingga atraksi hombo batu (lompat batu) yang terkenal itu.

Konon para leluhur orang Nias memilih tinggal di atas bukit untuk bersembunyi dari serangan musuh. Mengingat latar belakang masyarakat Nias yang sering berperang guna memperluas serta mempertahankan teritorial kampung mereka. Pemilihan di atas bukit dirasa sangat tepat karena musuh pasti sulit menjangkaunya.

Memasuki desa ini akan melalui tujuh puluh tujuh anak tangga berbahan batu alam tersusun rapi. Anak tangga yang sudah termakan usia hingga ratusan tahun itu masih terlihat kokoh dan kuat sekalipun dibangun tanpa campuran semen. Menjulang dengan kemiringan lebih dari 45 derajat siap menyambut siapa saja yang berkunjung di Desa Adat Bawomataluo, Tiba di ujung anak tangga, tepatnya di gerbang desa kita dapat menyaksikan pemandangan dengan latar belakang Desa Orahili dan pemandangan Pantai Sorake serta Teluk Lagundri di kejauhan. Pantai Lagundri dan Pantai Sorake dikenal sebagai surga surfing bagi para pecinta olah raga selancar.

Tak jauh dari gerbang desa adat Bawomataluo, deretan omo hada mulai terlihat di sisi kanan kiri jalan. Sekilas deretan omo hada tampak sama, namun jika diperhatikan akan terlihat perbedaannya, yakni pada ukuran rumah, tinggi rumah, serta jalan masuk (tangga) ke dalam rumah. Perbedaan ini didasarkan pada perbedaan golongan sosial/ tingkat strata pemilik rumah.

Semakin dalam menapaki perkampungan Bawomataluo, terlihat sebuah batu setinggi 2,15 meter yang menjadi tempat untuk lompat batu (Fahombo atau Hombo Batu dalam bahasa Nias) dan rumah adat dengan atap tinggi menjulang yang disebut Omo Sebua (Rumah Raja) di sebelah kiri dan Omo Bale (Balai Desa) di sebelah kanan.

bawomataluo

Desa Adat Bawomataluo, Nias

Patung Pusaka

Museum Pusaka Nias yang terletak di di Jl Yos Sudarso No 134 A, Gunungsitoli, Kabupaten Nias, menyimpan berbagai benda-benda pusaka. Tak kurang 6.000 koleksi mulai dari batu-batu megalitikum, baju adat, perkakas rumah tangga sampai senjata tradisional asli Nias. Diantaranya adalah patung-patung kuno. Salah satu patung yang terkenal adalah Patung Siraha Horo.

Patung Siraha Horo pada zaman dulu diyakini sebagai pembersih dosa dari para pemburu kepala manusia. Patung Siraha Horo bentuknya kecil, tidak sampai satu meter tingginya. Keunikan patung ini punya dua tanduk yang panjang dan terdapat ukiran alat kelamin pria pada bagian bawahnya. Menurut informasi yang terpampang di Museum Pusaka Nias, Patung Siraha Horo ternyata digunakan sebagai pembersih dosa. Bukan untuk orang sembarangan, tapi pembersih dosa bagi para pemburu kepala manusia di Nias!

Para pemburu kepala manusia harus membersihkan diri dengan berdoa pada patungnya setelah melakukan perburuan. Hal itu dilakukan agar anggota keluarganya tidak ada yang kena malapetaka. Pembersihan diri juga dilakukan dengan patung Siraha Horo sebelum melakukan perburuan. Para pemburu kepala manusia diharuskan meminta perlindungan, keselamatan, dan keberhasilan. Dua tanduk di patungnya adalah simbol hubungan dengan dewa yang berada di langit.

Untuk berdoa dengan patung Siraha Horo ini,  para pemburu kepala manusia berdoa sambil menggosokannya ke punggung dan badan.

Patung tersebut ditemukan di Nias Selatan di kawasan sekitar Teluk Dalam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s