Balai Kota Malang

Balai Kota Malang, Postcards Published by PFI Malang Raya,

Balai Kota Malang, Postcards Published by PFI Malang Raya,

Gedung Balai Kota adalah salah satu gedung berarsitektur kolonial Belanda yang terletak di lingkaran jalan Tugu Malang dan merupakan gedung peninggalan pemerintah Belanda. Gedung ini tampak menarik dan mudah ditemui karena berada di jantung Kota Malang dan menjadi salah satu icon kota Malang.

Balai Kota Malang

Barangkali Kota Malang lahir terlalu prematur pada tanggal 1 April 1914. Dewan kota dan walikota belum ada, bahkan kantor pemerintahan pun belum punya. Mau bagaimana lagi. Semenjak ditetapkan sebagai a full blown town (kota yang tumbuh dewasa) pada 1905, Kota Malang -saat itu berbentuk kawedanan- tumbuh sangat cepat di semua lini. Itulah sebabnya, pemerintah Hindia Belanda memutuskan melalui Instellings-Ordonnantie pada 1914 Staatsblad Nomor 297, Kawedanan Kotta (Kota Malang) ditetapkan menjadi gemeentee (kotapraja).

Berturut-turut berbagai perubahan di tahun-tahun berikutnya begitu cepat terjadi. Terlebih semenjak ditetapkannya H. I. Bussemaker sebagai wali kota Malang yang pertama pada tahun 1919. Kiranya patut berterima kasih atas segala prestasinya yang membuat Kota Malang berkembang pesat. Termasuk pembangunan daerah pusat pemerintahan baru dan gedung balai kota yang dicanangkan pada 26 April 1920.

Pembangunan gedung balai kota dimulai pada 1927, dengan rancangan gedung oleh H. F. Horn dari Semarang dengan perbaikan dari pemerintah kota. Adapun ruang wali kota dirancang oleh C. Citroen dari Surabaya. Dibangun selama dua tahun, hingga akhirnya pada September 1929 gedung balai kota resmi ditempati kali pertama oleh Ir. E. A. Voorneman. Wali kota penerus Bussemaker.

Alun-alun Tugu

Monumen tugu pernah hancur akibat Agresi Militer Belanda I. Monumen sebagai simbol kemerdekaan tersebut awalnya berdiri tepat setahun setelah kemerdekaan Republik Indonesia.

Setelah Belanda kembali menyerahkan kedaulatan kepada Indonesia – usai Agresi Militer Belanda II-, pemerintah Kota Malang kembali ke balai kota pada 2 Maret 1950. Dan tiga tahun kemudian, tugu kemerdekaan dibangun kembali. Bung Karno pun meresmikan tugu tersebut untuk kedua kalinya.

Tugu yang dikelilingi oleh kolam dan taman cantik tak sekadar terkungkung begitu saja. Tugu yang hampir mirip dengan Tugu Muda di Kota Semarang tersebut memiliki nilai filosofi tinggi. Pada puncak tugu berbentuk bambu tajam dan runcing, menandakan simbol senjata yang dahulu digunakan rakyat melawan penjajah. Senjata tradisional untuk merebut kemerdekaan.

Terdapat pula rantai yang menggambarkan kesatuan rakyat Indonesia yang sangat menyatu dan tidak dapat dipisahkan. Kemudian tangga yang berbentuk 4 dan 5 sudut, mempunyai 8 tingkat dan 17 fondasi. Melambangkan tanggal bersejarah Indonesia yaitu 17 Agustus 1945 yang menjadi hari kemerdekaan republik ini.

Dan keseluruhan dari alun-alun tugu ini, dikelilingi oleh jalan raya yang melingkar. Serta keberadaan pohon trembesi yang rindang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s