200 Tahun Meletusnya Gunung Tambora, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Souvenir sheet peringatan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora. (Terbit 14 Maret 2015)

Souvenir sheet peringatan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora. (Terbit 14 Maret 2015)

Dahulu pada tahun 1815, sebuah gunung berapi di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, meletus, menjadikannya salah satu bencana alam terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah Indonesia. Akibat yang ditimbulkannya tidak hanya di Indonesia, namun juga di beberapa tempat di belahan bumi lain.

Tambora, yang meletus pertama kali pada April 1815, merupakan sebuah gunung berapi aktif yang terletak di antara dua wilayah kerajaan besar di pulau Sumbawa. Nusantara yang pada saat itu masih berada dalam  masa transisi (interregnum) pemerintahan Inggris di bawah Letnan Gubenur Th. S. Raffles ke pemerintahan India Belanda, semula menduga bahwa suara yang dihasilkan akibat letusan Tambora tersebut merupakan suara letusan-letusan meriam yang dikirim sebagai bentuk penyerangan. Karenanya, sejumlah detasemen pasukan dikirim dari Yogyakarta ke pos-pos keamanan terdekat sebagai bentuk perlindungan.

Letusan Tambora juga terdengar hingga ke Makassar, menimbulkan dugaan bagi pemerintah setempat bahwa terjadi serangan bajak laut dari arah laut selatan (Laut Flores) sehingga satu detasemen pasukan pun dikirim ke laut untuk melindungi kota.

Letusan Tambora yang terjadi sepanjang tahun terhitung  April 1815 tersebut mengakibatkan dua kerajaan besar yang terletak di lereng-lerengnya musnah tertimbun lahar. Kerajaan tersebut adalah Kerajaan Papekat dan Tombura, dua unit politik di pulau Sumbawa yang kini keberadaannya dahulu hanya bisa dibuktikan dari arsip-arsip VOC yang pernah melakukan kontrak dengan Kompeni selama abad ke-17 dan 18 Masehi.

Lebih jauh lagi, letusan Tambora juga memberikan dampak global pada cuaca di negara lain bahkan hingga mencapai Amerika dan Eropa. Banyak tulisan-tulisan yang memberikan bukti bahwa efek letusan gunung yang berada di utara pulau Sumbawa tersebut sampai ke daerah mereka, salah satunya yang ditulis Dr. Keith C. Heidorn, seorang pakar cuaca Amerika, yang juga memberikan sebutan atas efek letusan Tambora sebagai The Year Without Summer.

Tambora sendiri dulunya merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di sebelah barat laut pulau Sumbawa, dengan ketinggian 4.000 mdpl. Namun seiring dengan meletusnya gunung tersebut secara berkala sejak tahun 1815, ketinggiannya kian menyusut hingga pada 2.851 mdpl, menjulang tinggi ke atas mega, di tanah yang membentuk Pulau Sumbawa.

Bandingkan dengan puncak yang tertinggi kini di Indonesia, yaitu Ndugu Ndugu atau lebih populer dengan nama Carstensz Pyramid, yang ujungnya kerap kali diliputi es dengan ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut.

Menurut penduduk daerah Sanggar, sebelum ledakan dahsyat terjadi, Gunung Tambora memiliki dua puncak yang diperkirakan oleh para ahli merupakan pipa kepundan di sisi tenggara. Pada proses pembentukannya sendiri, Tambora menutupi gunung api purba bernama Doro Labumbum di bagian tenggara.

Kini, setelah kehilangan puncaknya, Tambora memiliki kaldera yang di dalamnya terdapat puncak kecil yang  disebut dengan nama Doro Afi Toi. Kalderanya sendiri membentang dengan garis tengah sekitar 6 kilometer, dengan kedalaman 700 meter hingga 1 kilometer dari bibir kawah.

tambora_splash

Sebaran material letusan Gunung Tambora. (Kompas)

*National Geographic Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s