Ciwidey, Bandung

Membajak Sawah di Ciwidey, Bandung Selatan, Kartupos oleh Visit Indonesia, Tak Bertahun, Belum Terpakai,

Membajak Sawah di Ciwidey, Bandung Selatan, Kartupos oleh Visit Indonesia, Tak Bertahun, Belum Terpakai,

Ciwidey merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Bandung, memiliki desa sebanyak 7 desa. Desa-desa di kecamatan ciwidey adalah Panundaan, Ciwidey, Panyocokan, Lebak Muncang, Rawabogo, Nengkelan, dan Sukawening. Batas wilayah kecamatan Ciwidey sebelah utara berbatasan dengan kecamatan Soreang dan kecamatan Sindangkerta sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Rancabali dan Pasir Jambu sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Gunung Halu sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Pasir Jambu.

Jumlah penduduk Ciwidey adalah 73.723 orang (Sensus 2012), yang terdiri atas 37.542 laki-laki dan 36.181 perempuan, dengan sex ratio penduduk kecamatan ciwidey adalah sebesar 104, yang artinya jumlah penduduk laki-laki 4 persen lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan. dengan luas wilayah kecamatan ciwidey sekitar 35,35 kilo meter persegi yang didiami oleh 73.723 orang, maka rata-rata tingkat kepadatan penduduk kecamatan ciwidey adalah sebanyak 2068 orang per kilo meter persegi, dimana desa ciwidey menjadi desa dengan tingkat kepadatan penduduk paling tinggi dan desa nengkelan menjadi desa dengan tingkat kepadatan penduduk paling rendah. laju pertumbuhan penduduk kecamatan ciwidey per tahun selama sepuluh tahun terakhir yaitu dari tahun 2000 sampai tahun 2012 adalah sebesar 0.75 persen, dengan laju pertumbuhan penduduk tertinggi adalah di desa ciwidey, sedangkan yang terendah di desa nengkelan.

Harvesting Rice at Ciwidey, Bandung, West Java.

Harvesting Rice at Ciwidey, Bandung, West Java.Postcard by Visit Indonesia, 2016.

Sebagai salah satu sentra pertanian, pada tahun 2012 luas panen dan produksi padi sawah di kecamatan ciwidey relatif meningkat, luas panen meningkat sekitar 0.59 persen dari tahun sebelumnya, sedangkan produksi padi sawah meningkat dari 7,332.2 ton menjadi 7,372.8 ton di tahun 2012 dengan luas lahan 1.603 hektar. Luas lahan sawah ini hampir separuh luas wilayah kecamatan ciwidey yaitu seluas 35.35 km 2 atau 3.535 hektar.

Pemetik Teh, Ciwidey Bandung

Pemetik Teh, Ciwidey, Bandung, Kartupos oleh Visit Indonesia, Tahun tidak diketahui, Terpakai. Terima kasih Eni Masruriati, Kendal – Jawa Tengah

Sejarah singkat Teh di Indonesia

Industri teh telah hadir sejak lama di Indonesia. Kebiasaan minum teh sendiri juga hadir sejak berabad-abad lampau di Indonesia.Tanaman penghasil teh (Camellia sinensis) pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1684, berupa biji teh (diduga teh sinensis) dari Jepang yang dibawa oleh Andreas Cleyer, dan ditanam sebagai tanaman hias di Batavia. F. Valentijn, seorang rahib, juga melaporkan tahun 1694, bahwa ia melihat tanaman teh sinensis di halaman rumah gubernur jenderal VOC, Camphuys, di Batavia.

Pada abad ke-18 mulai berdiri pabrik-pabrik pengolahan (pengemasan) teh dan didukung VOC. Setelah berakhirnya pemerintahan Inggris di Nusantara, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Kebun Raya Bogor sebagai kebun botani (1817). Pada tahun 1826 tanaman teh melengkapi koleksi Kebun Raya, diikuti pada tahun 1827 di Kebun Percobaan Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Dari sini dicoba penanaman teh dalam skala luas di Wanayasa (Purwakarta) dan lereng Gunung Raung (Banyuwangi). Karena percobaan ini dianggap berhasil, mulailah dibangun perkebunan skala besar yang dipelopori oleh Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, pada tahun 1828 di Jawa. Ini terjadi pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal van den Bosch. Teh pun menjadi salah satu tanaman yang terlibat dalam Cultuurstelsel.

Teh kering olahan dari Jawa tercatat pertama kali diterima di Amsterdam tahun 1835. Setahun berikutnya, dilakukan swastanisasi perkebunan teh. Teh jenis assamica mulai masuk ke Indonesia (Jawa) didatangkan dari Sri Lanka (Ceylon) pada tahun 1877, dan ditanam oleh R.E. Kerkhoven di kebun Gambung, Jawa Barat (sekarang menjadi lokasi Pusat Penelitian Teh dan Kina. Karena sangat cocok dan produksinya lebih tinggi, secara berangsur pertanaman teh sinensis diganti dengan teh assamica, dan sejak itu pula perkebunan teh di Indonesia berkembang semakin luas. Pada tahun 1910 mulai dibangun perkebunan teh pertama di luar Jawa, yaitu di daerah Simalungun, Sumatera Utara.(Wikipedia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s